Jumat, 05 Juni 2009

Myth and Reality

Mitos tentang Makanan
Banyak miskonsepsi mengenai makanan yang masih mengakar di masyarakat. Di antaranya :
- Konsumsilah Yoghurt setiap hari untuk meningkatkan fungsi pencernaan.
- Minumlah susu setiap hari untuk menghindari kekurangan kalsium.
- Penuhilah kebutuhan vitamin harian dengan suplemen dan bukan dengan buah karena buah mengandung banyak karbohidrat dan kalori.
- Berpantanglah mengonsumsi karbohidrat seperti nasi dan roti untuk menghidndari bertambahnya berat badan.
- Berusahalah untuk mempertahankan asupan tinggi protein
- Dapatkan cairan dengan meminum teh hijau jepang, yang kaya antioksidan
Rebuslah air ledeng sebelum meminumnya untuk menyingkirkan sisa-sisa klorin.

Susu dan Dermatitis Atopik
Selama 30 tahun terakhir di Jepang, pasien penderita dermatitis atopik dan alergi serbuk meningkat secara drastis. Jumlahnya pada saat ini hampir sebanyak satu dari setiap lima orang. Begitu banyak teori yang berusaha menjelaskan mengapa terjadi peningkatan yang begitu cepat dalam jumlah orang yang menderita alergi, tetapi Hiromi Shinya percaya bahwa penyebab paling utama adalah diperkenalkannya susu dalam menu makan siang di sekolah pada awal era 1960 –an.
Susu, yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi, mengacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus kita. Sebagai akibatnya, racun-racun seperti radikal bebas, hidrogen sulfida, dan amonia diproduksi dalam usus. Penelitian mengenai proses apa saja yang dialami racun-racun ini dan penyakit-penyakit jenis apa saja yang dapat timbul masih berlangsung. Namun, beberapa hasil penelitian melaporkan bahwa susu tidak hanya menyebabkan berbagai alergi, tetapi juga dihubungkan dengan diabetes pada anak. Hasil penelitian ini tersedia di internet.

Fakta tentang Susu
- Tidak ada makanan lain yang lebih sulit dicerna daripada susu.
- Kasein, yang membentuk kira-kira 80% dari protein yang terdapat dalam susu, langsung menggumpal menjadi satu begitu memasuki lambung sehingga menjadi sangat sulit dicerna.
- Komponen susu yang dijual di toko telah dihomogenisasi dan menghasilkan radikal bebas.
- Susu yang dipasteurisasi tidak mengandung enzim-enzim yang berharga, lemaknya telah teroksidasi dan kualitas proteinnya berubah akibat suhu yang tinggi.
- Susu yang mengandung banyak zat lemak teroksidasi mrngacaukan lingkungan dalam usus, meningkatkan jumlah bakteri jahat, dan menghancurkan keseimbangan flora bakteri dalam usus.
- Jika wanita hamil minum susu, anak-anak mereka cenderung lebih mudah terjangkit dermatitis atopik.
- Minum susu terlalu banyak sebenarnya menyebabkan osteoporosis.

6 Alasan Asupan Tinggi Protein Berbahaya Bagi Kesehatan

1. Racun dalam daging tempat berkembang biaknya sel-sel kanker. Setiap sel mengandung DNA (deoxyribonucleic acid atau asam deoksiribonukleat), suatu zat kimia yang berisi peta tubuh dan dungsi-fungsinya. Produk sampingan beracun dari pencernaan lemak dan protein hewani yang berlebihan dapat merusak DNA, dan mengubah sel-sel menjadi sel kanker. Sel-sel kanker mulai berkembang biak dengan sendirinya. Darah kita mengandung sel darah merah, sel-sel darah putih dan limfosit. Sel-sel darah putih dan limfosit menyerang musuh-musuh seperti bakteri dan virus, menghancurkan mereka atau menjadikan mereka tidak berbahaya lagi. Jika sel-sel ini rusak, mekanisme pertahanan garis depan tubuh akan berhenti berfungsi, serta dapat berakhir dengan infkesi dan munculnya sel-sel abnormal atau sel-sel kanker.

2. Protein Menyebabkan Reaksi Alergi
Protein yang belum diuraikan menjadi nutrisi memasuki peredaran darah melalui dinding sebagai zat tak dikenal. Hal ini sering terjadi pada anak-anak yang masih kecil. Tubuh bereaksi terhadapnya sebagai zat tak dikenal dan menimbulkan reaksi alergi. Alergi protein seperti ini paling sering disebabkan oleh susu dan telur. Mengonsumsi protein hewani secara berlebihan dan reaksi alergi yang dihasilkannya adalah penyebab meningkatnya kasus-kasus dermatitis atopik, kaligata, penyakit kolagen, kolitis ulsertiva, dan penyakit Crohn.

3. Kelebihan Protein Menyebabkan Kerja Hati Dan Ginjal Lebih Berat.
Protein berlebih di dalam tubuh harus diuraikan dan disingkirkan melalui urine dan menimbulkan beban yang sangat berat bagi hati dan ginjal.

4. Konsumsi Protein Yang Berlebihan Menyebabkan Defisiensi Kalsium Dan Osteoporosis.
Saat asam amino dibentuk dalam jumlah besar, darah menajdi asam dan membutuhkan kalsium untuk menetralisasinya. Dengan demikian, konsumsi protein yang berlebihan menyebabkan berkurangnya kalsium. Terlebih lagi, kadar fosfor dalam daging sangatlah tinggi dan darah harus menjaga rasio kalsium dengan fosfor antara 1:1 dan 1:2. Makanan yang meningkatkan jumlah fosfor akan menyebabkan tubuh mengambil kalsium dari gigi dan tulang untuk menjaga keseimbangan tersebut. Juga, jika seseorang memiliki banyak fosfor dan kalsium dalam tubuh, fosfor dan kalsium itu bersenyawa membentuk kalsium fosfat. Tubuh tidak dapat menyerap senyawa ini, maka senyawa ini pun dikeluarkan, menambah semakin berkurangnya kalsium sehingga tubuh rentan terhadap osteoporosis. Inilah sebabnya masyarakat di negara-negara yang memiliki kebiasaan makan kaya protein hewani menderita osteoporosis : tulang-tulang yang keropos akibat penipisan jumlah kalsium.

5. Kelebihan Protein Dapat Menyebabkan Kekurangan Energi
Energi dalam jumlah besar diprelukan untuk mencerna makanan. Protein yang berlebih tidak dapat dicerna sepenuhnya dan karena itu tidak dapat diserap sehingga menyebabkan pembusukan di dalam usus dan timbulnya produk-produk sampingan yang beracun. Energi dalam jumlah yang sangat besar dibutuhkan untuk menghilangkan racun dari zat-zat ini. Pada saat energi dalam jumlah besar digunakan, sejumlah besar radikal bebas terbentuk. Radikal bebas bertanggung jawab atas terjadinya proses penuaan, kanker, penyakit jantung, dan aterosklerosis.

6. Kelebihan Protein Mungkin Ikut Menjadi Penyebab ADHD Pada Anak-Anak
Penelitian beberapa tahun belakangan ini menunjukkan adanya peningkatan jumlah anak-anak yang memiliki rentang perhatian pendek yang cenderung menghalami ledakan-ledakan kemarahan. Makanan dan nutrisi dapat menimbulkan dampak besar pada tingkah laku anak dan kemampuannya untuk beradaptasi secara sosial. Ada kecenderungan yang semakin besar bagi anak-anak di rumah maupun di sekolah untuk mengonsumsi makanan olahan dalam jumlah besar. Makanan ini tidak hanya mengandung berbagai zat tambahan, bahan makanan olahan juga cenderung menyebabkan tubuh bersifat asam. Protein hewani dan gula pun semakin banyak dikonsumsi sementara sayuran sering dihindari. Protein hewani dan gula membutuhkan lebih banyak kalsium dan magnesium sehingga menyebabkan defisiensi kalsium dalam tubuh. Defisiensi kalsium menggangu sistem saraf dan ikut menjadi penyebab kegelisahan dan iritabilitas (sifat lekas marah).

Source : The Miracle of Enzyme (Hiromi Shinya MD – Guru besar Kedokteran Albert Enstein College of Medicine)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar